Mengenang kembali, 8 tahun yang lalu kelahiran anak pertama kami ditengah musibah banjir. Demikian ceritanya:
Banjir yang terjadi beberapa hari belakangan ini ternyata turut mewarnai dan
membawa cerita tersendiri pada perjuangan istri saya melahirkan bayinya..
Mungkin terlalu berlebihan kalau dikatakan musibah, karena memang kami tidak
kehilangan apapun, kecuali hanya beberapa pakaian basah atau mesti bersihin
lumpur dari lantai. Tetapi bagaimanapun banjir telah membuat perasaan kami
was-was dan terhentinya aktifitas, sehingga memaksa kami untuk mengungsi ke
tempat lain.
Ceritanya berawal pada hari Selasa tanggal 29 Januari 2002. Subuh-subuh, saya
mendapat telpon harus menjemput pembantu kami yang baru yang ternyata sudah tiba
di Statiun Senen Jakarta. Bersama dengan Ibu Mertua, kami berangkat ditengah
guyuran hujan yang tidak pernah berhenti sejak dua hari terakhir. Dari Senen,
kami balik lagi ke Bekasi dengan naik kereta. Ketika melewati perumahan Regency,
terlihat genangan air yang ternyata telah setinggi lutut. "Wah, Regency banjir
bu", kata saya kepada ibu mertua. "Regency emang langganan kok. Makanya banyak
rumah disitu yang pada dijual", jawab ibu mertua saya. Dan ternyata ketika tiba
di rumah, banjir telah pula menggenangi rumah kami. Hanya dirumah saya, air
masih belum masuk rumah, tetapi rumah mertua di dalam rumah hampir setinggi
lutut. Makanya saya tinggalkan ibu mertua di rumah, dan buru-buru saya pergi ke
rumah beliau, yang ternyata sudah ada adik ipar yang telah mengangkat beberapa
barang untuk diselamatkan dari air. Selesai membereskan rumah mertua, istri saya
telpon dan mengatakan bahwa air telah pula masuk ke rumah kami. Buru-buru saya
pulang untuk mengangkat, terutama CD dan buku-buku saya yang ada di rak bawah.
Air perlahan tapi pasti naik terus, hingga abis maghrib, di dalam rumah kami
hampir menggenangi tempat tidur. Makanya kami putuskan untuk ngungsi dirumah
mertua saja, karena walaupun rumah beliau lebih rendah, tetapi disana ada ruang
atas, sehingga kami bisa tinggal diatas. Setiba disana, ternyata adik ipar
berserta bayinya yang baru berusia 3 minggu telah pula ada disana, begitu juga
adik ipar yang lain yang pula sedang hamil muda 4 bulan, sedangkan istri saya
sudah memasuki bulan ke 9. Jadinya 4 keluarga tumplek disitu. Hampir dua malam
kami hanya tinggal tanpa dapa melakukan apa-apa, karena air di dalam rumah sudah
setinggi lutut dan menggenangi sofa kami. Hanya para lelaki masih bisa hilir
mudik untuk melihat rumah masing-masing. Tentu saja 2 malam yang amat
membosankan. Yang kasihan tentunya istri saya dimana dengan perut buncitnya
harus naik turun tanggal kecil untuk selalu buang air kecil, karena kamar mandi
hanya ada dibawah. Itupun, toiletnya sudah terendam air, sehingga para wanita
tidak dapat buang air besar. Kalau lelaki lebih mudah, tinggal berendam di air
dan membiarkan 'buangannya' hanyut mengapung ke arah sungai.
Hari kamis air sudah surut, sehingga kami sudah bisa membersihkan lumpur yang
mengotori sepanjang sudut rumah. Hari yang melelahkan, karena kami harus kerja
bakti membersihkan 4 rumah. Hanya memang hujan tetap tidak berhenti mengguyur,
makanya kami belum berani menurunkan barang-barang. Takut air bakalan masuk
rumah lagi. Dan ternyata ketakutan kami terbukti. Mulai Jum'at siang air
perlahan-lahan naik. Tengah malam, turun hujan lebat, dan tiba-tiba didalam
rumah air sudah hampir setinggi pinggang. Perasaan kami benar-benar kalut dan
was-was. Takut air makin tinggi. Apalagi banyak khabar simpang siur yang
mengatakan pintu air di Sukabumi mau dibuka, atau Pondok Gedhe yang tidak
terlalu jauh dari komplek kami sudah terendam tiga meter. Perasaan was-was saya
adalah kalau tiba-tiba saat itu istri saya harus melahirkan. Akhirnya pagi
harinya kami berembug, bahwa sebaiknya kami mengungsi saja. Karena kita tidak
bisa terus-terusan begini. Apalagi saya sudah seminggu tidak masuk kerja, dan
tentunya tidak bisa bertambah lama lagi. Akhirnya diputuskan para wanita
mengungsi ke Bandung ke tempat saudara, dengan pertimbangan disana dekat dengan
rumah sakit, jadi kalau sewaktu-waktu istri saya melahirkan, tidak terlalu
repot. Dan para lelaki kembali kerumah atau mengungsi ke tempat yang mendekati
perkerjaan.
Sabtu siang air di jalan sudah lebih tinggi dari pinggang sehingga, para wanita
dan bayi terpaksa harus dievakuasi dengan perahu karet, dimana kebetulan para
tim SAR telah pula datang untuk membantu. Untungnya jauh-jauh hari saya telah
menyiapkan tas yang diperlukan untuk persiapan kelahiran, jadi tinggal
mengangkat saja. Sabtu Siang kami berangkat, dengan mobil yang penuh sesak,
sementara barang-barang hanya dapat diikat diatas kap mobil dan hanya ditutupi
oleh jas hujan. Setibanya di Bogor, akhirnya diputuskan bahwa sebagain naik bus
umum saja, biar mobilnya tidak terlalu penuh. Akhir saya dan dua adik ipar naik
bus umum, sementara yang lainnya meneruskan perjalanan dengan mobil.
Jam sepuluh malam kami bertiga sudah tiba di Bandung, dan baru saja istri saya
telpon bahwa mobil mereka mogok sekitar 20 km dari Sukabumi. Wah, tentu saja
perasaan saya amat galau, karena tengah malam, ditengah guyuran hujan, 2 orang
ibu hamil beserta orok berusia 3 minggu harus mogok ditengah jalan, yang jauh
dari penginapan. Hubungan telpon kamipun terputus-putus karena mungkin sinyal
ditempat mereka mogok tidak bagus. Yang sedikit membuat saya lebih tenang,
mereka akhirnya mendapatkan penginapan di rumah orang yang telah berbaik hati
menawarkan rumahnya kepada keluarga kami. Yah, yang penting mereka bisa
istirahat dulu. Saya tanya istri saya apakah dia baik-baik saja, dia bilang iya.
Terdengar suaranya yang cukup tenang. Ah, untunglah istri saya cukup tabah dan
kuat mendapatkan cobaan ini.
Keesokan harinya saya menerima telpon yang mengatakan bahwa ada teman yang
menjemput dan menawarkan untuk tinggal di rumah dia di Depok. Pertimbangan lain
adalah, mobil yang mogok memang bisa diperbaiki sedikit, tetapi tidak layak
kalau harus dibawa terus ke Bandung. Dengan pertimbangan itu, akhirnya saya
setuju untuk kembali ke Depok saja. Jam 11 siang saya sudah meninggalkan
Bandung, dan jam 6 malam kami sudah tiba di Depok. Keluarga saya ternyata sudah
tiba duluan di Depok.
Di Depok, rumahnya cukup besar, tetapi karena rumah itu memang masih dapat
dikatakan kosong, kami semua tidur dibawah, kecuali bayi ditempatkan di tempat
tidur. Karena kami sudah kelelahan dengan perjalanan yang begitu panjang,
akhirnya kami bisa tidur nyenyak. Sore harinya saya sendirian kembali ke Bekasi
untuk melihat rumah, dan tidur di Bekasi.
Hari Selasa istri saya masuk kerja untuk terakhir kalinya sekalian mengajukan
cuti dan serah terima pekerjaan. Sebenarnya perkiraan dokter, bayi kami akan
lahir sekitar tanggal 16 Februari. Niat semula istri saya mau mengambil cuti
kira-kira seminggu sebelum hari H. Tetapi berhubung kondisi cuaca yang tidak
menentu, dan banjir dimana-mana, akhirnya diputuskan untuk mengambil cuti lebih
awal.
Selasa sore, dari kantor saya di Cikampek saya langsung pulang ke Depok. Jam 8
malam saya tiba di Depok, sementara istri saya masih belum pulang karena
terjebak macet. Jam 9:30 istri saya baru tiba di rumah, dan dia kelihatan capai
sekali. Kasihan. Tapi, biarlah, paling nggak mulai besok dia sudah bisa
beristirahat tenang. Setelah makan, istri saya langsung tidur, sementara kami
masih mengobrol sambil nonton tv. Jam 11 malam istri saya terbangun untuk buang
air kecil. "Mbang, kok celana saya basah terus ya". Karena saya memang tidak
begitu paham dengan tanda-tanda kelahiran, saya suruh istri saya bilang ke mama.
Akhirnya sama mama diputuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit saja, karena
kalau ada apa-apa paling nggak sudah diperiksakan ke dokter. Setibanya di rumah
sakit hanya diijinkan satu orang yang masuk di kamar bersalin, jadi hanya ibu
mertua yang menemani istri sementara saya menunggu diluar tanpa tahu apa yang
terjadi. Setengah jam kemudian ibu mertua keluar dan mengatakan bahwa sudah
pembukaan dua, jadi langsung tinggal saja di rumah sakit, sembari menunggu
dokter. Akhirnya saya diperbolehkan masuk, dan saya lihat istri saya sedang
kesakitan memegan perutnya yang sudah mulai mules. Kasihan sekali saya
melihatnya.
Perasaan saya sedikit tegang dan takut, karena satu malam sebelum kami pergi
mengungsi, saya bermimpi istri saya jatuh terduduk dan keluar darah dari
pahanya. Sambil menangis tersedu-sedu dia mengatakan bahwa dia telah keguguran.
Saya takut itu menjadi kenyataan. Tapi saya hibur hati saya bahwa mimpi biasanya
suka kebalikannya. Tetapi karena hati belum tenang juga, akhirnya saya ambil
wudlu dan sholat sunat. Seusai sholat sunat saya baca surat Maryam, dengan
harapan agar istri saya dimudahkan dalam proses kelahiran bayinya seperti
doa-doa saya jauh-jauh hari sebelumnya.
Selesai baca quran saya kembali ke ruang bersalin, istri saya sudah merintih
hebat sementara dokter masih juga belum datang. Wah, sedikit panik juga. Ibu
mertua masih berusaha menenangkan istri saya yang terus merintih kesakitan,
sementara saya pingin menolong tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Kira-kira
jam 1:00 pagi dokter baru datang. Perasaan saya sedikit tenang. Dan juga saya
lebih tenang melihat saat-saat anak saya mau keluar. Akhirnya jam 2:00 kurang
lima menit, meledaklah tangis bayi yang baru pertama kalinya melihat dunia luar.
Alhamdulillah, betapa plong rasa hati saya. Langsung saya melakukan sujud
syukur. Saya benar-benar bersyukur, karena ternyata Allah telah mendengarkan doa
saya. Istri saya hanya perlu waktu tiga jam untuk melahirkan anaknya dengan
normal. Allah memang maha besar. Selesai bayi saya dibersihkan saya langsung
adzan di telinga kanan, dan qomat ditelinga kiri. Ah, betapi lembutnya wajah
anak saya. Matanya mirip sekali dengan mata ibunya. Suatu nikmat yang tiada tara
karena dipercaya oleh Allah untuk menitipkan makhluknya kepada kami.
Mudah-mudahan kami bisa menjaga kepercayaan itu, sehingga dapat mendidik dia
menjadi anak yang Sholeh, yang berbakti pada orang tua, dan taat pada agama.
Sesuai harapan dengan arti nama yang telah kami berikan: FADHEL IRSYAD MUKHTAR
yang artinya Petunjuk Mulia yang terpilih. Amin.
Dunia Anak Berkebutuhan Khusus
Sabtu, 12 Juni 2010
KEKUATAN PIKIRAN?
Saya mengenal Autisme, ketika ikut merawat seorang ponakan. Pada waktu itu usia saya masih sekitar 25 tahun, dan merasa senang ternyata ponakan saya anteng banget, tidak rewel, jadi tidak merepotkan.
Seiring dengan perkembangan usianya, tampak sekali ponakan saya sangat lambat bicaranya, dan perilakunya berbeda dengan teman-teman lainnya. Waktu itu saya belum mengenal internet, jadi pengetahuan tentang autisme sangatlah terbatas. Hanya entah apa dasarnya walaupun belum didiagnosis oleh dokter, saya menyimpulkan dalam hati bahwa ponakan saya adalah salah satu anak yang memiliki perilaku seperti halnya anak autis.
"Prepare for the worst", adalah salah satu quote yang saya pakai agar tidak terlalu kecewa dalam menghadapi kegagalan. Termasuk dalam hal ini, saya prepare for the worst kalau suatu waktu, saya mendapatkan anak autis. Mungkin ini salah satu kesalahan saya, kenapa saya tidak pernah positive thingking. Salah seorang teman pernah mengkritik cara berpikir saya.
"Jangan abaikan kekuatan pikiran", kata teman saya pada suatu hari. "Kalau kamu berpikir negatif, kamu akan mendapatkan hasil yang negatif, begitu pula sebaliknya".
Dan ketika pada akhirnya saya mendapatkan 2 anak berkebutuhan khusus, prepare for the worst yang saya lakukan sebelumnya tidak cukup. Masih banyak preparing yang lainnya yang mesti dilakukan, Prepare for the time, energy, money, health, patient, skill, heart, dan masih banyak yang lainnya.
Blog ini saya buat sekedar untuk mengeluarkan uneg-uneg suka duka saya membesarkan dua anak Fadhel Irsyad Mukhtar (8) tahun yang di diagnosis MSSD (Multisystem Development Dissorder), salah satu varians dari Autis. Satu lagi Raihan Azhar Mukhtar yang di diagnosis Spech Delay dan sedikit hyperaktif.
Semoga bermanfaat buat orang tua yang mengalami hal yang sama.
Seiring dengan perkembangan usianya, tampak sekali ponakan saya sangat lambat bicaranya, dan perilakunya berbeda dengan teman-teman lainnya. Waktu itu saya belum mengenal internet, jadi pengetahuan tentang autisme sangatlah terbatas. Hanya entah apa dasarnya walaupun belum didiagnosis oleh dokter, saya menyimpulkan dalam hati bahwa ponakan saya adalah salah satu anak yang memiliki perilaku seperti halnya anak autis.
"Prepare for the worst", adalah salah satu quote yang saya pakai agar tidak terlalu kecewa dalam menghadapi kegagalan. Termasuk dalam hal ini, saya prepare for the worst kalau suatu waktu, saya mendapatkan anak autis. Mungkin ini salah satu kesalahan saya, kenapa saya tidak pernah positive thingking. Salah seorang teman pernah mengkritik cara berpikir saya.
"Jangan abaikan kekuatan pikiran", kata teman saya pada suatu hari. "Kalau kamu berpikir negatif, kamu akan mendapatkan hasil yang negatif, begitu pula sebaliknya".
Dan ketika pada akhirnya saya mendapatkan 2 anak berkebutuhan khusus, prepare for the worst yang saya lakukan sebelumnya tidak cukup. Masih banyak preparing yang lainnya yang mesti dilakukan, Prepare for the time, energy, money, health, patient, skill, heart, dan masih banyak yang lainnya.
Blog ini saya buat sekedar untuk mengeluarkan uneg-uneg suka duka saya membesarkan dua anak Fadhel Irsyad Mukhtar (8) tahun yang di diagnosis MSSD (Multisystem Development Dissorder), salah satu varians dari Autis. Satu lagi Raihan Azhar Mukhtar yang di diagnosis Spech Delay dan sedikit hyperaktif.
Semoga bermanfaat buat orang tua yang mengalami hal yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)